Di balik setiap gelas kopi Kapal Api yang diseduh jutaan rumah tangga Indonesia, tersimpan kisah panjang penuh kerja keras dan keberanian mengambil risiko yang jarang diketahui publik.
Masa Muda Soedomo Mergonoto
Soedomo Mergonoto, sosok di balik kesuksesan PT Santos Jaya Abadi, memulai perjalanan hidupnya bukan dari kemewahan, melainkan dari pekerjaan kasar yang jauh dari bayangan seorang pemimpin perusahaan kopi raksasa.
Soedomo remaja harus berjuang keras untuk bertahan hidup dan menambah penghasilan. Dikutip dari Detik Finance, ia pernah bekerja mengerok ban-ban bekas, bahkan sempat menjadi kernet bemo demi menambah pemasukan.
Titik awal keterlibatannya dalam bisnis kopi keluarga baru dimulai pada tahun 1967, ketika Soedomo diminta membantu usaha kopi milik ayahnya, Go Soe Loet.
Perannya pada masa itu adalah sebagai penjual kopi, dengan modal yang sangat sederhana berupa sepeda ontel. Dengan kendaraan seadanya, Soedomo berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk menawarkan kopi kepada para pembeli.
Usaha kopi keluarga sebelumnya telah dirintis lebih dulu oleh Go Soe Loet bersama kedua saudaranya, dengan memasarkan produk kopi bubuk bermerek Hap Hoo Tjan. Mereka memulai usaha warung kopi di kawasan Pecinan, Surabaya, dengan cara berkeliling kampung sambil memanggul dagangan mereka sendiri.
Kerja keras generasi pertama inilah yang kemudian menjadi fondasi awal bagi perjalanan bisnis yang akan diteruskan oleh Soedomo.
Pabrik Pertama dan Asal Nama Kapal Api
Memasuki pertengahan tahun 1970-an, usaha keluarga ini mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Pada tahun 1975, keluarga Soedomo berhasil membangun sebuah pabrik pengolahan kopi di kawasan Kenjeran, Surabaya, sebelum kemudian membangun pabrik yang lebih besar di Sepanjang, Sidoarjo. Dari pabrik inilah lahir produk kopi yang kelak dikenal luas dengan nama Kapal Api.
Nama tersebut memiliki makna historis yang mendalam bagi keluarga mereka, karena diambil dari kenangan Go Soe Loet bersama kedua saudaranya yang pernah menumpang kapal uap menuju Hindia Belanda pada era tahun 1920-an.
Dicibir karena Mesin Roasting dari Jerman
Perjalanan bisnis Soedomo tidak selalu mendapat dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya.
Ketika ia mengambil keputusan untuk mendatangkan mesin roasting kopi langsung dari Jerman, sebuah investasi besar yang terlalu beresiko untuk skala usaha rumahan seperti milik keluarganya.
Dikutip dari Times Indonesia, tetangga di sekitar tempat tinggalnya bahkan menyebutnya dengan sebutan arek sempel, atau seseorang yang dianggap nekat.
Banyak pihak yang meragukan keputusan tersebut, bahkan mengkhawatirkan bahwa langkah itu justru akan membawa usaha keluarganya menuju kebangkrutan.
Meski menghadapi keraguan dari lingkungan sekitar, Soedomo tetap teguh melanjutkan langkahnya.
Ia meyakini bahwa mesin roasting buatan Jerman tersebut memiliki keunggulan dari segi efisiensi dan penghematan biaya operasional, sekaligus mampu meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan.
Keyakinannya ini pada akhirnya terbukti tepat, karena investasi tersebut memberikan fondasi produksi yang jauh lebih kuat bagi perkembangan bisnis kopi keluarganya di masa mendatang.
Konflik Keluarga dan Merintis dari Awal
Perjalanan bisnis keluarga ini juga tidak lepas dari ujian berupa konflik internal. Usaha kopi Hap Hoo Tjan yang dirintis oleh Go Soe Loet bersama kedua saudaranya akhirnya harus berhenti beroperasi akibat perbedaan pendapat di antara ketiga bersaudara tersebut.
Aset usaha kemudian dibagi rata kepada masing-masing pihak, dan ayah Soedomo hanya mendapatkan bagian berupa pabrik penggorengan kopi.
Dari aset yang tersisa itulah, pada tahun 1979 Soedomo memutuskan untuk merintis kembali bisnis kopi keluarganya secara mandiri, hingga akhirnya berhasil mendirikan badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas dengan nama PT Santos Jaya Abadi.
Kapal Api Hari Ini
Perjalanan panjang yang penuh liku ini kini membuahkan hasil yang jauh melampaui apa yang mungkin dibayangkan oleh seorang remaja yang dulu bekerja mengerok ban bekas dan menjadi kernet bemo.
Kapal Api kini dikenal luas sebagai salah satu produk kopi legendaris yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Soedomo Mergonoto, perusahaan ini kini mampu mempekerjakan ribuan karyawan yang tersebar di berbagai wilayah di tanah air.
Kisah perjalanan Soedomo Mergonoto memberikan pelajaran penting mengenai perbedaan mendasar antara keberanian yang didasari perhitungan matang dengan tindakan nekat tanpa persiapan.
Pentingnya keteguhan terhadap keyakinan sendiri, terlepas dari penilaian negatif yang datang dari lingkungan sekitar.
Keputusan Soedomo untuk berinvestasi pada mesin roasting dari Jerman sempat menuai kecaman dan cemoohan dari tetangganya sendiri, namun ia tetap melanjutkan langkahnya karena meyakini manfaat jangka panjang dari investasi tersebut.
Validasi eksternal berupa opini masyarakat sekitar pada akhirnya terbukti bukan menjadi acuan yang tepat dalam pengambilan keputusan bisnis strategis.
Selain itu, kemampuan bertahan dan bangkit kembali setelah menghadapi konflik internal keluarga turut menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya ketahanan dalam menjalankan bisnis jangka panjang.
Soedomo tidak berlarut dalam kegagalan tersebut, melainkan memanfaatkan aset yang tersisa untuk membangun kembali bisnis dari titik yang lebih kecil.
Pada akhirnya, kombinasi antara keberanian yang terukur, ketahanan menghadapi tekanan sosial, serta kemampuan bangkit dari kegagalan ini yang menjadi fondasi utama di balik transformasi sebuah usaha rumahan sederhana menjadi salah satu perusahaan kopi terbesar di Indonesia.
Rujukan: Detik Finance, Times Indonesia, CNBC Indonesia, iNews (RCTI+).
Räv Media membedah brand dan bisnis dari sisi strategi dan marketing. Setiap artikel melewati riset dan penyuntingan redaksi sesuai pedoman media siber.
Kenali redaksi & pedoman kami →
