Mobile Legends: Bang Bang lahir di Shanghai, bukan di Jakarta. Tapi kalau melihat siapa yang paling banyak memainkannya, game ini terasa seperti produk lokal. Indonesia adalah pasar terbesar Mobile Legends berdasarkan jumlah pengguna aktif bulanan, dan Moonton sendiri menyebut Indonesia sebagai pasar paling penting ke depannya.
Bagaimana sebuah game buatan perusahaan China bisa sedekat itu dengan pemain Indonesia? Jawabannya bukan cuma soal gameplay yang cocok untuk ponsel kelas menengah. Ada rangkaian keputusan bisnis yang membuat pemain merasa ikut memiliki game ini.
Dari Shanghai ke HP Pemain Indonesia
Dikutip dari Okezone, Moonton didirikan pada April 2014 di Distrik Minhang, Shanghai, oleh Justin Yuan dan Watson Xu Zhenhua. Game MOBA mereka dirilis global pada November 2016 dan berganti nama menjadi Mobile Legends: Bang Bang. Sejak awal, game ini populer di Asia Tenggara, terutama Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Popularitas itu bertahan lama. Dilansir Bisnis.com, Mobile Legends menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di Indonesia sepanjang 2023, mengalahkan Free Fire, dan mencatat sekitar 5 juta unduhan hanya pada Februari 2024. Pendapatannya di Indonesia pada 2023 berada di urutan kedua, hanya di bawah TikTok.
Gatotkaca dan Strategi “Hero untuk Indonesia”
Langkah yang paling sering disebut sebagai titik balik adalah kehadiran Gatotkaca pada Juli 2017. Menurut Selular.id, hero ini dipilih lewat riset dan pemungutan suara pemain, lalu diluncurkan dengan slogan “Hero untuk Indonesia!” lewat acara flash mob cosplay di Jakarta.
Prosesnya tidak berhenti di pemilihan tokoh. Dikutip dari detikINET, Moonton menggelar survei kedua untuk menentukan versi Gatotkaca yang dipakai, dan versi dari komik Garudayana karya komikus Is Yuniarto menempati posisi pertama. Moonton kemudian melisensikan karakter itu, dan Is ikut mengawasi desain, gerakan, sampai skill sang hero.
Dari sisi marketing, ini adalah lokalisasi yang jauh lebih dalam dari sekadar menerjemahkan menu ke bahasa Indonesia. Pemain dilibatkan dalam keputusan produk, kreator lokal diberi kredit, dan hasilnya adalah tokoh yang sudah punya ikatan emosional sebelum game itu sendiri ada. Pola serupa juga terlihat pada kisah Forrest Li dan Free Fire, game lain yang tumbuh besar karena membaca pasar Asia Tenggara dengan tepat.
Ekosistem Esports yang Dibangun dari Sini
Rasa memiliki itu kemudian diperkuat lewat kompetisi. Liga profesional Mobile Legends di Indonesia tumbuh menjadi tontonan rutin, dan puncaknya terlihat di kejuaraan dunia M7. Dilansir Yicai Global, final M7 digelar di Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, dengan 3.000 penonton di dalam arena, lebih dari 10.000 penggemar di luar, dan puncak penonton daring lebih dari 5,68 juta menurut Esports Charts. Dalam laporan yang sama, Tinger Xu dari Moonton menyebut ekosistem game ini memang berawal dari Indonesia.
Nilai bisnis dari semua itu kini terlihat jelas. Menurut Bisnis.com, Savvy Games Group yang dimiliki dana investasi Arab Saudi PIF sepakat membeli Moonton dari ByteDance senilai lebih dari US$6 miliar atau sekitar Rp101,3 triliun pada Maret 2026. Secara global, Mobile Legends tercatat sudah diunduh lebih dari 1,5 miliar kali dengan lebih dari 110 juta pengguna aktif bulanan.
Pelajaran untuk Brand Lokal
Kisah Mobile Legends menunjukkan bahwa asal negara sebuah produk tidak otomatis menentukan siapa yang akan mencintainya. Yang menentukan adalah seberapa besar konsumen merasa dilibatkan. Survei pemain, kolaborasi dengan kreator lokal, dan panggung kompetisi di negeri sendiri membuat pemain Indonesia merasa Mobile Legends juga milik mereka.
Bagi brand yang sedang dibangun, pertanyaannya sederhana: bagian mana dari produkmu yang bisa ikut ditentukan oleh pelanggan? Orang cenderung setia pada produk yang membuat mereka merasa ikut memiliki.
Rujukan: Okezone, Selular.id, detikINET, Bisnis.com (unduhan 2023-2024), Bisnis.com (akuisisi Savvy Games), Yicai Global
räv membedah brand dan bisnis dari sisi strategi dan marketing. Setiap artikel melewati riset dan penyuntingan redaksi sesuai pedoman media siber.
Kenali redaksi & pedoman kami →
