Dulu bisnisnya gagal berkali-kali, namun setelah ia memilih untuk belajar serius tentang bisnis dan kopi, sekarang nama bisnisnya ‘menggema’ menjadi nama salah satu stasiun MRT di Jakarta. Bagaimana awalnya?
Ini kisah Andanu Prasetyo dan proses trial and error yang panjang untuk membangun Toko Kopi Tuku.
Andanu Prasetyo, yang akrab disapa Tyo, sudah aktif mencoba peruntungan di dunia bisnis sejak tahun 2005. Berbagai jenis usaha pernah ia jalani pada masa itu, mulai dari bisnis distro baju, konsep semi kafe, hingga usaha kedai es krim.
Sayangnya, tidak semua usaha tersebut berjalan mulus, namun setiap pengalaman yang ia lalui turut membentuk pemahamannya mengenai bagaimana menjalankan sebuah bisnis.
Pada tahun 2010, Tyo mengambil langkah yang lebih serius dengan membuka restoran bernama Toodz House di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, Tyo sendiri telah menetap di kawasan tersebut selama lebih dari 25 tahun, menjadikannya area yang sangat familiar dan dekat secara emosional baginya.
Meski demikian, perjalanan bisnisnya belum menemukan titik terang yang benar-benar signifikan pada fase ini.
Pada tahun 2013, ia memilih untuk pergi ke Melbourne, Australia, dan belajar tentang bisnis dan kopi. Di sana, Tyo tidak sekadar menikmati kopi sebagai konsumen, melainkan mempelajari seluk-beluk bisnis kopi secara langsung.
Pengalaman belajar di Melbourne ini kemudian berpadu dengan wawasan yang ia peroleh sebelumnya melalui riset yang ia kerjakan semasa menempuh pendidikan di Prasetya Mulya Business School.
Tyo menyadari bahwa konsumsi kopi berbasis biji lokal Indonesia masih tergolong minim dibandingkan potensi yang sebenarnya dimiliki negara penghasil kopi seperti Indonesia.
Kombinasi antara pengalaman langsung di Australia dan riset akademis inilah yang akhirnya membentuk konsep matang di balik Toko Kopi Tuku.
Pada tahun 2015, Tyo akhirnya mendirikan Toko Kopi Tuku pertama di kawasan Cipete. Berbeda dari usaha-usaha sebelumnya, kali ini konsep yang ia tawarkan jauh lebih jelas dan terarah, yaitu menghadirkan kopi berbasis biji lokal dengan pendekatan yang sederhana namun autentik.
Menu andalan bernama Es Kopi Susu Tetangga yang ia perkenalkan kemudian menjadi pionir tren kopi susu gula aren yang belakangan banyak diadaptasi oleh berbagai merek kopi lain di Indonesia.
Berbeda dengan banyak pelaku usaha makanan dan minuman lain yang cenderung terburu-buru membuka franchise demi mempercepat ekspansi, Tyo lebih memilih untuk tidak mengadopsi sistem franchise bagi Kopi Tuku.
Keputusan ini didasari oleh kekhawatirannya bahwa standar kualitas produk dapat menurun apabila operasional bisnis tidak dikendalikan secara langsung dan ketat oleh timnya sendiri.
Prinsip menjaga kualitas di atas kecepatan ekspansi ini pada akhirnya membuahkan hasil yang signifikan.
Kopi Tuku berkembang secara organik dan mendapatkan tempat khusus di hati masyarakat. Hubungan erat dengan komunitas lokal ini yang membawa Tyo pada pencapaian yang tidak terduga, yaitu kerja sama penamaan stasiun dengan PT MRT Jakarta pada Januari 2025.
Bagi Tyo, kerja sama ini memiliki makna yang jauh lebih personal dibandingkan sekadar strategi pemasaran.
Cipete adalah kawasan tempat ia telah tinggal selama puluhan tahun dan menjadi lokasi cikal bakal berdirinya Kopi Tuku.
Kesempatan untuk menghadirkan nama Tuku di stasiun MRT Cipete menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang yang telah ia lalui, sekaligus penghormatan kepada komunitas yang telah mendukung bisnisnya sejak awal berdiri.
Perjalanan bisnis Tyo tidak berhenti hanya sampai di level nasional.
Berbekal reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun dengan konsisten menjaga kualitas produk berbasis bahan lokal, Kopi Tuku kemudian berhasil melangkah lebih jauh dengan membuka pop-up store di Gangnam, Korea Selatan dan terbaru di Amsterdam, Belanda.
Rangkaian usaha yang pernah ia jalani sebelum menemukan kesuksesan lewat Kopi Tuku menunjukkan bahwa kegagalan atau ketidakberhasilan pada tahap awal bukanlah indikasi bahwa seseorang salah jalan dalam berbisnis.
Keputusan Tyo untuk secara khusus mempelajari kopi di Melbourne juga menegaskan pentingnya investasi pada pengetahuan mendalam sebelum benar-benar terjun ke sebuah industri secara serius.
Prinsip menolak sistem franchise demi menjaga kualitas juga menjadi pelajaran bisnis yang relevan, terutama di tengah tren bisnis makanan dan minuman yang kerap mengutamakan kecepatan ekspansi dibandingkan konsistensi kualitas.
Pendekatan pertumbuhan yang terkendali, meski berjalan lebih lambat dibandingkan kompetitor yang memilih jalur waralaba, terbukti mampu membangun basis pelanggan yang loyal serta reputasi merek yang kuat dan sulit ditiru oleh pesaing.
Pada akhirnya, perjalanan Andanu Prasetyo membuktikan bahwa kesuksesan bisnis yang bertahan lama tidak selalu lahir dari keberuntungan sesaat, melainkan dari kombinasi antara kesediaan belajar dari kegagalan.



