F&BBiz

Richeese Factory sering dikira restoran asing, padahal asli Bandung. Simak kisahnya dari camilan rumahan Nabati, wafer keju, hingga 238 gerai.

Sejarah Richeese Factory: Dikira Restoran Asing, Ternyata Asli Bandung

Sejarah Richeese Factory, Restoran Cepat Saji Asli Bandung

Banyak orang mengira Richeese Factory adalah jaringan restoran cepat saji dari luar negeri. Namanya berbahasa Inggris, ada kata “Factory”, dan gaya gerainya mirip waralaba Amerika. Faktanya, restoran ayam dengan saus keju ini asli Bandung, dan akarnya bukan dari bisnis restoran sama sekali.

Richeese Factory lahir dari perjalanan panjang sebuah usaha camilan rumahan yang tumbuh menjadi Nabati Group. Kisahnya menarik dari sisi bisnis karena memperlihatkan cara sebuah perusahaan memindahkan rasa yang sudah dipercaya konsumen ke kategori yang sama sekali baru.

Berawal dari Pabrik Camilan Skala Rumah Tangga

Dikutip dari CNBC Indonesia, perjalanan Nabati Group dimulai pada 1985 sebagai pabrik camilan tradisional skala rumah tangga di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Okezone menyebut perusahaan ini didirikan pada 1985 dan menempatkan Krisdianto Lesmana sebagai sosok di balik kelompok usaha tersebut, yang kini dipimpin oleh putra tertuanya.

Dari usaha kecil itu, perusahaan berkembang menjadi produsen makanan ringan berskala besar. Produk wafer menjadi tulang punggungnya, dan rasa keju menjadi identitas yang paling melekat di benak konsumen.

Wafer Keju yang Menjadi Aset Utama

Menurut CNBC Indonesia, pada 2006 perusahaan meluncurkan Richeese Nabati yang diklaim sebagai wafer keju pertama di dunia. IDX Channel mencatat merek Richeese sendiri sudah ada sejak 2007. Seiring waktu, Nabati Group dinobatkan sebagai produsen wafer dengan penjualan terbanyak di dunia oleh Euromonitor International, seperti dikutip Warta Ekonomi dari keterangan Corporate Communication Manager Nabati Group, Chandra Taruna.

Pencapaian ini penting untuk memahami langkah berikutnya. Saat sebuah rasa sudah akrab di lidah jutaan orang, rasa itu berubah menjadi aset merek yang bisa dibawa ke produk lain.

Langkah Jenius: Membawa Rasa Keju ke Restoran Ayam

Alih-alih berhenti di camilan kemasan, Nabati Group membawa rasa keju dari wafernya ke restoran ayam goreng. Dilansir detikFinance, gerai pertama Richeese Factory dibuka di Paris Van Java Mall, Bandung, pada 8 Februari 2011, dan cita rasa saus kejunya diadopsi dari wafer Richeese Nabati. Restoran ini dikelola PT Richeese Kuliner Indonesia sebagai salah satu unit bisnis Nabati Group.

Strategi ini cerdas karena konsumen tidak perlu diyakinkan dari nol. Mereka sudah mengenal dan menyukai rasa keju Richeese, sehingga restoran baru langsung punya pembeda yang jelas di tengah persaingan ayam goreng cepat saji.

Hasilnya terlihat dari ekspansi. Menurut CNBC Indonesia dan Warta Ekonomi, per Oktober 2023 gerai Richeese Factory sudah mencapai 238 titik di Indonesia dan Kuala Lumpur, Malaysia, sementara kelompok usahanya telah menjangkau lebih dari 25 negara.

Pelajaran untuk Brand Lokal

Kisah Richeese Factory menunjukkan bahwa brand kuat tidak selalu harus dimulai dari nol. Kadang cukup membawa rasa yang sudah dipercaya orang ke tempat yang baru. Pola memperluas merek seperti ini juga terlihat pada kisah Wings Group, yang tumbuh dengan memanfaatkan kekuatan distribusi dan merek yang sudah dikenal.

Bagi pelaku usaha, pertanyaannya sederhana: aset apa yang sudah dipercaya pelangganmu, dan ke kategori mana aset itu bisa dibawa?

Rujukan: CNBC Indonesia, detikFinance, Warta Ekonomi, IDX Channel, Okezone

Tim Redaksi Räv Media

Räv Media membedah brand dan bisnis dari sisi strategi dan marketing. Setiap artikel melewati riset dan penyuntingan redaksi sesuai pedoman media siber.

Kenali redaksi & pedoman kami →
Iklan Iklan
Iklan
Scroll to Top