BusinessPulse

BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% di kuartal III 2026. Sektor hotel dan tempat makan tumbuh paling cepat, 11,22%. Simak rinciannya.

Ekonomi RI Tumbuh 5,47% di Kuartal III 2026, Sektor Hotel dan Restoran Paling Ngebut

Ekonomi RI Tumbuh 5,47% di Kuartal III 2026, Sektor Hotel dan Restoran Paling Ngebut

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal III 2026. Angka ini diumumkan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, di Jakarta pada Kamis (5/11/2026), seperti dikutip dari Liputan6.

Capaian tersebut lebih tinggi dibanding kuartal III 2025 yang tumbuh 5,04 persen, dilansir Fortune IDN. Sepanjang 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I dan 5,29 persen pada kuartal II. Secara kumulatif hingga kuartal III 2026, pertumbuhan mencapai 5,45 persen, menurut IDN Times.

Nilai PDB Tembus Rp6.741 Triliun

Menurut Fortune IDN, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan tercatat Rp3.633,2 triliun.

Dibanding kuartal sebelumnya (quarter to quarter), ekonomi tumbuh 1,59 persen. Edy menjelaskan, laju ini sejalan dengan pola musiman tahun-tahun sebelumnya, ketika pertumbuhan kuartal III umumnya lebih rendah dari kuartal II, dikutip dari IDN Times.

Hotel dan Tempat Makan Tumbuh Paling Cepat

Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor tumbuh positif. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yaitu 11,22 persen. BPS menyebut kenaikan ini didorong oleh tingkat penghunian kamar hotel serta belanja di restoran dan rumah makan, dilansir Liputan6. Dengan angka itu, akomodasi dan makan minum menjadi satu-satunya lapangan usaha yang tumbuh dua digit, jauh di atas laju ekonomi nasional.

Di bawahnya ada sektor jasa keuangan yang tumbuh 8,47 persen dan jasa lainnya 8,32 persen. Adapun lima sektor dengan kontribusi terbesar, yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, bersama-sama menyumbang sekitar 65,31 persen PDB nasional.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Penopang Utama

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dengan porsi 51,97 persen dan tumbuh 5,04 persen, menurut Fortune IDN. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi 30,81 persen dan tumbuh 6,06 persen. Kedua komponen ini bersama-sama membentuk 82,78 persen PDB.

Konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi di antara komponen pengeluaran, yaitu 8,95 persen, dengan porsi 7,28 persen. Ekspor tumbuh 4,59 persen. Secara wilayah, seluruh kawasan tumbuh positif, dan Bali serta Nusa Tenggara tumbuh 6,08 persen, di atas angka nasional.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Bagi pelaku bisnis, data ini memberi gambaran bahwa belanja untuk menginap dan makan di luar sedang tumbuh lebih cepat dibanding sektor lain. Brand di bidang kuliner, perhotelan, dan pariwisata punya ruang untuk memanfaatkan momentum ini lewat penawaran dan pengalaman yang lebih menarik bagi konsumen. Pertumbuhan yang ditopang tingkat hunian hotel dan belanja di rumah makan juga memberi sinyal bahwa sebagian konsumen masih membelanjakan uang untuk pengalaman, bukan hanya kebutuhan pokok.

Di sisi lain, porsi konsumsi rumah tangga yang lebih dari separuh PDB menegaskan bahwa belanja masyarakat tetap menjadi mesin utama ekonomi. Karena itu, membaca perilaku konsumen tetap menjadi pekerjaan rumah utama bagi brand yang ingin ikut tumbuh di sisa tahun 2026.

Rujukan: Liputan6, Fortune IDN, IDN Times

Tim Redaksi Räv Media

Räv Media membedah brand dan bisnis dari sisi strategi dan marketing. Setiap artikel melewati riset dan penyuntingan redaksi sesuai pedoman media siber.

Kenali redaksi & pedoman kami →
Iklan Iklan
Iklan
Scroll to Top