Pada 1921, seorang pemain basket berjalan masuk ke kantor Converse dengan kaki yang kesakitan. Ia tidak datang untuk membeli sepatu baru. Ia datang untuk mengeluh, karena sepatu basket yang ia pakai terasa kurang stabil dan kurang fleksibel.
Alih-alih menanggapinya sebagai komplain biasa, Converse justru memberinya pekerjaan. Pemain itu bernama Charles Hollis Taylor, yang kelak dikenal sebagai Chuck Taylor, dan namanya hingga kini menempel di salah satu sepatu paling dikenal di dunia.
Pendiri yang Memulai di Usia 47 Tahun
Converse didirikan oleh Marquis Mills Converse, yang lahir pada 1861. Ia bukan pengusaha muda yang nekat memulai dari nol.
Pada 1890, ia pindah ke Boston dan membangun usaha sebagai pedagang grosir sepatu karet, lalu menjadi manajer di perusahaan sepatu karet dan dikenal berpengalaman di bisnis ritel, termasuk sebagai manajer umum sebuah toko serba ada besar di kota itu.
Pada Februari 1908, di usia sekitar 47 tahun, ia mendirikan Converse Rubber Shoe Company di Malden, Massachusetts, dengan modal sekitar US$250 ribu.
Perusahaan itu memproduksi berbagai barang berbahan karet untuk pria, wanita, dan anak-anak, mulai dari sepatu boot, sepatu tenis, hingga ban mobil.
Dalam setahun, pabriknya sudah mempekerjakan sekitar 350 orang. Pada 1910, produksinya mencapai 4.000 pasang sepatu per hari.
All Star: Sepatu Basket dengan Detail yang Dipikirkan
Perusahaan itu baru mulai membuat sepatu atletik pada sekitar 1915, dimulai dari sepatu tenis. Titik baliknya datang pada 1917, saat Converse meluncurkan All Star Trainer, sepatu basket pertamanya.
Tampilannya sederhana, berwarna coklat netral dengan garis hitam, tetapi detail fungsinya dirancang untuk keunggulan pemain.
Lapisan tumit ditempatkan di bagian dalam untuk melindungi tulang pergelangan kaki dari cedera, dan tapak berpola berlian membantu pemain berhenti serta mengubah arah dengan lebih cepat.
Sebelum Air Jordan dari Nike muncul, Converse lebih dulu menguasai pasar sepatu basket. Pebasket ternama seperti Larry Bird dan Julius Erving pernah memakai All Star di kaki mereka.
Chuck Taylor: Pelanggan yang Menjadi Tenaga Penjual
Kembali ke 1921. Setelah Chuck Taylor datang mengeluh, ia bergabung dengan Converse sebagai salesman sekaligus pemain untuk tim All Stars.
Dalam waktu sekitar setahun, All Star mengalami perubahan besar berkat masukannya, termasuk desain yang lebih fleksibel dan patch bundar di pergelangan kaki.
Untuk mendorong penjualan, Taylor menggelar klinik basket di sekolah menengah dan perguruan tinggi di seluruh Amerika Serikat.
Di sana ia mengajarkan dasar-dasar permainan sambil memperkenalkan sepatunya. Tidak lama kemudian, pemain basket profesional ikut memakainya.
Pada awal 1930-an, Converse menambahkan nama Chuck Taylor pada patch pergelangan kaki sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya.
Sepatu itu kemudian menjadi sepatu resmi Olimpiade dari 1936 hingga 1968, dan tentara Amerika Serikat memakainya saat berlatih pada masa Perang Dunia II.
Jatuh, Bangkit, dan Jatuh Lagi
Perjalanan Converse tidak mulus. Perusahaannya bangkrut pada 1929, meski All Star terus bertahan.
Pada 1957, versi Oxford berpotongan rendah diperkenalkan dan akhirnya dipakai di luar lapangan basket. Pada 1970-an hadir One Star, dan sepatu Converse mulai dipakai pemain skateboard dengan gaya retro.
Namun sejak 1970-an, Converse kehilangan monopolinya di sepatu atletik karena pesaing seperti Puma, Adidas, dan Nike tumbuh. Perusahaan ini kemudian dinilai terlalu bergantung pada All Star, yang pasarnya runtuh sekitar 1989 hingga 1990.
Perusahaan induknya, Interco, mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 1991, dan Converse sendiri bangkrut pada 22 Januari 2001. Nike kemudian mengakuisisinya pada 2003.
Angka Terbaru: Pendapatan Terpangkas Hampir Sepertiga
Kisah naik turun itu belum berhenti. Menurut data Wikipedia, pertumbuhan Converse sebagai aksesori fesyen kasual membawa pendapatan US$2,4 miliar pada 2023.
Namun laporan tahunan Nke untuk tahun fiskal 2026, menunjukkan pendapat Converse turun 32% pada basis mata uang netral menjadi sekitar US$1,2 miliar, dengan penurunan di semua wilayah. Penjualan unit turun 31 persen, sedangkan laba operasi anjlok 93 persen.
Tekanan itu terlihat jelas pada kuartal keempat yang berakhir 31 Mei 2026. Pendapatan Converse pada periode itu turun 32% menjadi sekitar US$244 juta, dengan penurunan di semua wilayah, sementara Nike secara keseluruhan membukukan pendapat tahunan sekitar US$46,4 miliar yang relatif datar.
Dengan kata lain, Converse menjadi salah satu titik terlemah di grup induknya pada tahun tersebut.
Nike menyebut margin kotor Converse menyusut 490 basis poin, terutama karena harga jual rata-rata yang lebih rendah dan biaya penyesuaian merek dan pasar, termasuk cadangan persediaan usang dan pesangon karyawan.
Pelajaran Bisnis: Ikon Bukan Strategi
Dari 118 tahun perjalanan Converse, ada satu pola yang bisa dipelajari lintas industri yaitu ikon adalah aset yang berharga, tetapi bukan strategi.
Converse besar karena mendengarkan orang yang benar-benar memakai produknya, dan menjadikan atlet sebagai wajah sekaligus penasihat desain. Namun merek yang terlalu bergantung pada satu produk akan ikut jatuh ketika pasar produk itu berubah.
Nilai sebuah ikon tidak menjamin kelanjutan bisnis. Pasar All Star runtuh pada akhir 1980-an, perusahaan bangkrut pada 2001, dan data terbaru menunjukkan tekanan besar pada pendapatan dan laba.
Bagi pelaku usaha, kisah ini memberi pegangan yang jelas: dengarkan pemakai produk kami sekeras mungkin, jadikan mereka bagian dari perjalanan merek, dan jangan biarkan satu produk andalan menjadi satu-satunya alasan bisnismu bertahan.
räv membedah brand dan bisnis dari sisi strategi dan marketing. Setiap artikel melewati riset dan penyuntingan redaksi sesuai pedoman media siber.
Kenali redaksi & pedoman kami →
