TechScope

Kisah Ken Kutaragi membangun PlayStation dari proyek kontroversial hingga menjadi ekosistem game global melalui inovasi teknologi dan kemitraan pengembang.

Nyaris Dipecat karena Diam-Diam Bikin Chip untuk Saingan, Insinyur Sony Ini Justru Melahirkan PlayStation

Nyaris Dipecat karena Diam-Diam Bikin Chip untuk Saingan, Insinyur Sony Ini Justru Melahirkan PlayStation

Pada akhir 1980-an, insinyur Sony diam-diam bekerja pada sebuah proyek yang tidak diminta perusahaannya. Ia sedang merancang chip suara untuk konsol milik pesaing.

Ketika para pimpinan mengetahuinya, mereka marah besar, dan kariernya nyaris berakhir saat itu juga. Beberapa tahun kemudian, insinyur yang sama berdiri di balik peluncuran konsol game pertama yang tembus 100 juta unit.

Ken Kutarag, lahir di Tokyo pada 1950, anak seorang pemilik percetakan kecil. Ia menempuh pendidikan teknik elektro, dan pada 1975 bergabung dengan Sony sebagai insinyur di laboratorium riset digital.

Posisi awalnya jauh dari dunia game. Pada masa itu, Sony belum menaruh minat pada industri tersebut, dan konsol sering dianggap sekadar mainan anak-anak.

Proyek Rahasia untuk Pesaing

Pada 1988, Sony dan Nintendo, yang saat itu menjadi raja konsol game, sempat bekerja sama. Kutaragi berhasil meyakinkan Nintendo untuk memakai prosesor suara rancangan Sony, SPC-700, pada konsol Super Nintendo.

Menurut sejumlah catatan, ia mengerjakan chip itu secara diam-diam. Ketika petinggi Sony mengetahui keterlibatannya dengan perusahaan pesaing, mereka marah. Kutaragi tetap bertahan karena mendapat dukungan Norio Ohga, pimpinan Sony saat itu.

Kerja sama itu kemudian berlanjut. Nintendo berbalik mendekati Sony untuk mengembangkan tambahan pemutar CD-ROM bagi konsol Super Nintendo. Proyek itu awalnya disebut SNES-CD atau Play Station.

Sony juga ingin membuat konsol sendiri yang kompatibel dengan Super Nintendo dan bisa memutar musik sesuai keahliannya. Namun Hiroshi Yamauchi, presiden Nintendo, tidak senang karena menilai Sony terlalu banyak menuntut. Kemitraan pun terhenti.

Ditolak Dua Raksasa

Setelah berpisah dari Nintendo, Sony memutuskan untuk jalan terus dan membuat konsol sendiri. Mereka sempat mendekati Sega untuk bekerja sama, tetapi ditolak.

CEO Sega saat itu, Tom Kalinske, menyebutnya ide bodoh karena menurutnya Sony tidak tahu cara membuat perangkat keras maupun perangkat lunak game.

Meski begitu, Kutaragi dan timnya melanjutkan pekerjaan dan memperlihatkan prototipe PlayStation berbasis CD-ROM dengan grafis yang memukau pada zamannya.

Presiden Sony, Norio Ohga, memercayakan proyek itu sepenuhnya kepada Kutaragi. Dalam catatan detikInet, PlayStation menjadi salah satu cara membalas pihak yang meremehkan Sony.

Meluncur Tanpa Pengalaman, tetapi dengan Banyak Mitra

Pada 1994, Sony mengumumkan akan masuk industri game dengan konsol sendiri. Karena tidak berpengalaman membuat game, Sony giat mencari dukungan pengembang. Konami, Namco, dan Williams Entertainment menjadi sebagian pendukung awalnya.

Berbeda dengan Nintendo yang fokus pada game buatan sendiri, Sony banyak mengandalkan pengembang luar, dan seri seperti Metal Gear dan Grand Theft Auto lahir di platform ini.

Pada 3 Desember 1994, PlayStation generasi pertama meluncur, seminggu setelah pesaingnya, Sega Saturn. Sambutannya meriah. Di Jepang, 100 ribu unit ludes pada hari pertama penjualan.

Salah satu terobosannya adalah pemakaian CD yang mampu menampung lebih banyak data daripada kartrid.

Dampak yang Mengubah Peta Industri

PlayStation generasi pertama terjual lebih dari 100 juta unit, menjadikannya konsol pertama yang mencapai angka itu. 

PlayStation 2 melangkah lebih jauh dengan 155 juta unit dan menjadi konsol terlaris sepanjang masa. Dominasi Nintendo terganggu, Sega tersingkir dari bisnis konsol, dan Microsoft masuk dengan Xbox karena khawatir PlayStation akan merusak dominasi game PC.

Seiring waktu, Sony juga membangun studio sendiri yang melahirkan game terkenal seperti God of War, Gran Turismo, dan Uncharted.

Menurut analis Wedbush Securities, Michael Pachter, kemampuan Sony menggandeng pengembang pihak ketiga yang sebelumnya membuat game komputer adalah keberhasilan besar, dan keunggulan khusus dari studio-studionya mendorong Sony memimpin penjualan atas Xbox secara dominan.

Kutaragi sendiri kemudian memimpin divisi game Sony hingga meninggalkan perusahaan pada 2007, setelah peluncuran PlayStation 3 yang pada awalnya kesulitan secara komersial.

Angka Terbaru: Dari Menjual Konsol ke Ekosistem

Tiga dekade setelah peluncuran pertamanya, bisnis PlayStation memperlihatkan wajah yang berbeda. Dalam laporan Sony untuk kuartal April hingga Juni 2026, penjualan kumulatif PlayStation 5 mencapai 95,3 juta unit.

Namun pada kuartal itu hanya 1,6 juta unit terkirim, turun 36 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, jumlah pengguna aktif bulanan PlayStation mencapai 125 juta akun, rekor untuk bulan Juni. Pendapatan layanan, yang mencakup PlayStation Network, PlayStation Plus, dan iklan, naik 20,8 persen menjadi 208,6 miliar yen.

Penjualan segmen game dan layanan jaringan relatif datar di 937,1 miliar yen, sedangkan laba operasinya naik 37 persen menjadi 202,0 miliar yen.

Sebagian media menyebut kenaikan laba itu terbantu kompensasi terkait tarif di Amerika Serikat, sehingga lonjakan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan organik.

Platform Menang atas Produk

Dari perjalanan PlayStation, ada pola yang bisa dipelajari lintas industri yaitu platform yang membuat pihak lain ingin ikut serta lebih kuat daripada produk yang dibuat sendiri.

Sony tidak memulai sebagai ahli game. Ia memulai sebagai perusahaan elektronik yang memberi pengembang alasan untuk membangun di atas konsolnya, dan keputusan itu terbukti menentukan.

Ppeluang besar sering datang dari proyek sampingan, dan seseorang yang melihatnya biasanya membutuhkan pelindung di dalam organisasi, seperti Norio Ohga bagi Kutaragi. 

Produk fisik bisa berganti generasi, tetapi ekosistem pengguna dan pengembang yang menopangnya yang bertahan. Data 2026 menunjukkan penjualan konsol melambat, tetapi pengguna aktif dan pendapatan layanan terus tumbuh.

Bagi pelaku usaha, kisah ini memberi pegangan yang jelas: carilah proyek yang tampak tidak penting bagi perusahaan tetapi penting bagi pasarnya, bangun panggung agar orang lain ingin ikut, dan ingat bahwa pertumbuhan jangka panjang lahir dari ekosistem, bukan hanya dari satu produk.

Tim Redaksi räv

räv membedah brand dan bisnis dari sisi strategi dan marketing. Setiap artikel melewati riset dan penyuntingan redaksi sesuai pedoman media siber.

Kenali redaksi & pedoman kami →
Iklan Iklan
Iklan
Scroll to Top