Fore Coffee mengambil langkah berani menjadi jaringan kopi kekinian pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2025, mendahului para pemain dengan skala lebih besar seperti Kopi Kenangan dan Kopi Tuku yang masih memilih jalur pendanaan privat. Keputusan strategis ini terbukti membuahkan hasil signifikan, dengan harga saham FORE melonjak 181,9 persen secara year-to-date dan pendapatan tembus Rp1 triliun kurang dari satu tahun sejak listing.
Keputusan Berani Menjadi Pionir IPO
Di tengah persaingan sengit industri kopi kekinian yang dikuasai pemain besar seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa, Fore Coffee memilih strategi berbeda dengan menjadi yang pertama melantai di bursa, alih-alih mengikuti jalur pendanaan privat konvensional yang ditempuh kompetitor. Keputusan menjadi pionir IPO ini memberi Fore Coffee eksposur media dan kepercayaan investor yang signifikan, sebuah keunggulan first-mover di segmen pasar modal yang belum pernah dijajaki pemain kopi kekinian sebelumnya.
Kinerja Keuangan yang Mendukung Keputusan IPO
Menjelang IPO, Fore Coffee mencatat pertumbuhan penjualan 135 persen secara tahunan pada September 2024, dengan nilai Rp727 miliar dibanding Rp309 miliar pada tahun sebelumnya, sekaligus berbalik dari rugi Rp16,4 miliar menjadi laba bersih Rp42,3 miliar. Perbaikan kinerja keuangan yang signifikan ini menjadi fondasi penting yang memberi kepercayaan diri manajemen untuk mengambil langkah IPO di tengah kondisi pasar modal yang masih penuh ketidakpastian bagi startup teknologi.
Perolehan Dana dan Valuasi Saat IPO
Fore Coffee menawarkan saham pada rentang harga Rp160 hingga Rp202 per saham, memperoleh dana segar hingga Rp379,76 miliar dengan valuasi mencapai Rp1,80 triliun atau sekitar 100 juta dolar AS pada rentang harga tertinggi. Valuasi ini memang jauh lebih kecil dibanding valuasi terakhir Kopi Kenangan yang mencapai 1 miliar dolar AS, namun tetap menjadi pencapaian signifikan bagi startup F&B skala menengah yang berani mengambil langkah pertama ke pasar modal.
Kinerja Pasca-IPO yang Mengesankan
Sembilan bulan pertama sejak IPO, Fore Coffee membukukan pendapatan Rp1,04 triliun, naik 43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp727 miliar, didukung ekspansi jaringan toko yang pesat. Harga saham FORE bahkan melonjak 181,9 persen secara year-to-date, menunjukkan kepercayaan pasar modal yang kuat terhadap keberlanjutan model bisnis mereka pasca-listing.
Baca juga: Tren WFC di Kalangan Pekerja Muda Makin Digemari, Two Drops Coffee Hadir Jadi Pilihan Baru di BCC
Model Bisnis Berbasis Teknologi
Fore Coffee membangun model bisnis yang menggabungkan konsep kopi berkualitas dengan pendekatan digital dalam pemesanan, distribusi, dan pengalaman pelanggan, memberi mereka skalabilitas dan efisiensi operasional yang tinggi. Pendekatan berbasis teknologi ini menjadi salah satu faktor penting yang menarik minat investor, karena menunjukkan potensi pertumbuhan yang lebih terukur dibanding model bisnis F&B konvensional yang lebih padat karya.
Positioning Premium Affordable
Fore Coffee memposisikan diri di segmen premium affordable yang bisa menjangkau berbagai kalangan konsumen, sebuah strategi yang berbeda dari positioning harga super terjangkau ala kompetitor tertentu maupun positioning premium eksklusif ala merek internasional. Segmentasi harga di tengah-tengah ini memberi Fore Coffee fleksibilitas menjangkau basis konsumen yang lebih luas tanpa harus terjun ke perang harga habis-habisan.
Target Pertumbuhan Agresif Pasca-IPO
CEO Fore Coffee, Vico Lomar, menargetkan peningkatan penjualan 40 hingga 50 persen pada 2025, ditopang ekspansi outlet dan penguatan strategi digital, menunjukkan ambisi pertumbuhan yang agresif memanfaatkan dana segar hasil IPO. Target ambisius ini konsisten dengan filosofi bahwa dana IPO harus dimanfaatkan secara produktif untuk mempercepat ekspansi, bukan sekadar disimpan sebagai cadangan modal pasif.
Dampak Positif bagi Ekosistem Startup F&B Indonesia
Keberhasilan IPO Fore Coffee membuka jalan dan memberi validasi bagi startup F&B Indonesia lain yang mempertimbangkan opsi serupa, menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia terbuka bagi model bisnis konsumen yang sudah terbukti profitable dan scalable. Dampak positif ini bisa mendorong lebih banyak startup F&B mengikuti jejak Fore Coffee di masa mendatang.
Manajemen Ekspektasi Pasar Modal
Fore Coffee berhasil mengelola ekspektasi investor dengan baik lewat komunikasi kinerja yang transparan pasca-IPO, tercermin dari kenaikan harga saham yang signifikan sebagai respons pasar terhadap pencapaian kinerja yang konsisten melampaui ekspektasi. Manajemen ekspektasi yang baik ini penting menjaga kepercayaan investor jangka panjang terhadap saham yang baru saja melantai di bursa.
Baca juga: Bedah Model Bisnis Es Teh Indonesia, Alternatif Minuman Kekinian di Luar Dominasi Kategori Kopi
Tantangan Mempertahankan Momentum Pertumbuhan
Setelah lonjakan harga saham yang impresif, tantangan berikutnya bagi Fore Coffee adalah mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas yang sudah menjadi ekspektasi tinggi investor pasar modal. Tekanan mempertahankan kinerja pasca-IPO seringkali lebih besar dibanding sebelum perusahaan menjadi entitas publik yang laporan kinerjanya diawasi ketat setiap kuartal.
Refleksi Akhir
Fore Coffee membuka babak baru penting bagi hubungan antara industri F&B kekinian dan pasar modal Indonesia, sebuah jembatan yang kemungkinan akan terus dilalui pemain F&B lain di masa mendatang.
Analisis Tambahan
Bagi startup F&B lain yang mempertimbangkan opsi IPO, kasus Fore Coffee menunjukkan pentingnya timing yang tepat, di mana perusahaan perlu menunjukkan pembalikan dari rugi ke laba sebelum benar-benar siap menghadapi pengawasan ketat investor publik. Momentum kinerja keuangan yang tepat menjadi kunci penting keberhasilan strategi IPO di industri F&B yang kompetitif.
Peran Media dalam Membangun Sentimen Positif
Status sebagai jaringan kopi kekinian pertama IPO memberi Fore Coffee eksposur media yang sangat luas, menciptakan sentimen positif yang turut mendukung performa harga saham mereka pasca-listing. Manfaat eksposur media dari status pionir ini menjadi keuntungan tambahan yang tidak dinikmati kompetitor yang mengikuti jejak IPO di kemudian hari.
Catatan Penutup
Keberhasilan Fore Coffee menjadi pionir IPO kopi kekinian membuka babak baru bagi industri F&B Indonesia, menunjukkan bahwa pasar modal domestik semakin terbuka bagi model bisnis konsumen yang kreatif dan berkelanjutan.
Prospek Bisnis ke Depan
Fore Coffee diperkirakan akan terus memperluas jaringan gerai mereka sembari memanfaatkan dana IPO untuk investasi teknologi dan infrastruktur pendukung pertumbuhan jangka panjang. Keberhasilan mempertahankan momentum pasca-IPO akan menjadi indikator penting bagi startup F&B lain yang mempertimbangkan opsi melantai di bursa efek Indonesia.
Pelajaran buat Pebisnis
Kasus Fore Coffee menunjukkan bahwa menjadi yang pertama mengambil langkah berani seperti IPO, meski dengan skala lebih kecil dibanding kompetitor utama, bisa memberi keunggulan strategis berupa eksposur media dan kepercayaan pasar yang signifikan. Kesiapan fundamental bisnis, tercermin dari pertumbuhan pendapatan dan pembalikan dari rugi ke laba menjelang IPO, menjadi kunci penting yang memungkinkan keputusan berani semacam ini benar-benar membuahkan hasil positif pasca-listing.
Insight Kunci
- Fore Coffee menjadi jaringan kopi kekinian pertama IPO di Indonesia pada April 2025, mendahului Kopi Kenangan dan Kopi Tuku.
- Harga saham FORE melonjak 181,9 persen secara year-to-date dengan pendapatan tembus Rp1 triliun dalam sembilan bulan pasca-IPO.
- Model bisnis berbasis teknologi dan positioning premium affordable jadi kunci daya tarik Fore Coffee bagi investor pasar modal.



