Sempat punya hutang ke bank sebesar Rp 7 miliar karena bisnisnya mengalami penurunan penjualan. Namun, Donny justru membangun fondasi yang kini membawanya menaungi lebih dari 160 toko yang sudah menjangkau Asia Tenggara, hingga Timur Tengah.
Perjalanan ini bermula ketika Donny Pramono, pria kelahiran 30 Desember 1981, menemukan ide bisnisnya secara tidak sengaja ketika menempuh pendidikan tinggi di University of Penn State, Amerika Serikat.
Donny kerap mencicipi yogurt di sekitar kampusnya, hingga muncul ide bahwa rasa ini harus dibawa ke Indonesia. Proses eksperimen yang dilakukan Donny tidak berjalan sekali jadi. Ia mencoba berbagai formulasi sebelum akhirnya menemukan racikan yang pas.
Satu hal yang disadari Donny dalam proses tersebut adalah perbedaan preferensi rasa antara konsumen Amerika dan Indonesia. Yoghurt di Amerika Serikat cenderung memiliki rasa manis yang dominan karena kandungan susu yang lebih tinggi, sementara lidah masyarakat Indonesia lebih cocok dengan keseimbangan antara rasa asam dan manis.
Donny memilih untuk mengadaptasi rasa sesuai dengan karakter konsumen lokal, yang kemudian membawanya pada peluncuran Sour Sally pada tahun 2008.
Kata “Sour” merujuk pada rasa asam, sementara “Sally” merepresentasikan sosok perempuan yang manis.
Pada periode 2011 hingga 2012, penjualan perusahaan mengalami penurunan signifikan. Situasi ini bahkan membuat Donny harus menanggung utang bank hingga Rp 7 miliar.
Namun, alih-alih hanya fokus bertahan dari tekanan finansial tersebut, Donny menjadikan krisis ini sebagai bahan evaluasi mendalam terhadap industri kuliner secara keseluruhan.
Dari pengalaman tersebut, ia menyadari adanya tiga fase yang biasanya dilalui sebuah produk kuliner di pasar. Fase pertama adalah fase tren, fase gaya hidup, dan fase budaya.
Pemahaman mengenai tiga fase ini menjadi kerangka berpikir yang terus digunakan Donny dalam mengembangkan bisnisnya ke depan, bukan sekadar pelajaran yang berhenti setelah krisis pertama tersebut selesai.
Tidak lama setelah bisnisnya kembali stabil, Donny dihadapkan pada tantangan besar berikutnya, yaitu pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Pembatasan mobilitas masyarakat membuat pola konsumsi bergeser drastis ke arah digital.
Menghadapi situasi tersebut, Donny bergerak cepat dengan menerapkan sistem kemitraan franchise secara online. Melalui skema ini, masyarakat dapat menjadi mitra bisnis tanpa harus menyewa tempat atau membuka gerai fisik.
Langkah ini tidak hanya membantu Sour Sally bertahan di tengah krisis, tetapi juga membuka jalur pertumbuhan baru yang lebih fleksibel bagi bisnisnya.
Seiring berjalannya waktu, bisnis yang dirintis Donny terus berkembang jauh melampaui satu merek tunggal. Donny kini menaungi lebih dari 160 toko Sour Sally, dan Gulu Gulu. Ekspansi ini menunjukkan bahwa pondasi bisnis yang ia bangun sejak awal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ke lini usaha lainnya.
Langkah ekspansi Donny tidak berhenti di dalam negeri. Pada tahun 2024, Sour Sally mencatatkan sejarah sebagai merek makanan dan minuman asal Indonesia pertama yang melakukan ekspansi ke kawasan Timur Tengah, dengan membuka gerai di Dubai dan Arab Saudi.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2025 Sour Sally kembali memperluas jangkauannya ke Filipina, dengan rencana membuka hingga 48 gerai dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Utang Rp 7 miliar yang membebani Donny pada 2011-2012 bisa saja menjadi titik akhir ambisinya, seperti yang dialami banyak pengusaha lain yang berhenti setelah tekanan finansial serupa.
Namun, Donny justru merumuskan tiga fase bisnis kuliner yang terus ia pakai sebagai kompas, termasuk ketika pandemi datang dan ia bergerak cepat membangun sistem franchise online.
Pola yang sama berlanjut saat ia membawa Sour Sally jadi merek kuliner Indonesia pertama yang menembus Timur Tengah.
Krisis bukan ancaman yang harus dihindari, melainkan bahan untuk membentuk cara berpikir yang lebih matang, selama pelakunya mau belajar dan terus bergerak alih-alih berhenti di tengah jalan.



