Satu Momen Viral Disulap Jadi Panggung Brand : Pelajaran Marketing dari Fenomena Trendjacking 

Satu Momen Viral Disulap Jadi Panggung Brand Pelajaran Marketing dari Fenomena Trendjacking
Tim Redaksi RAV Media – Rav Media

Dunia digital selalu punya cara untuk mengubah satu momen personal menjadi bahan perbincangan global dalam hitungan jam. Belum lama ini, sebuah lamaran pernikahan yang dilakukan di puncak Empire State Building menjadi viral di berbagai platform media sosial. Pasangan yang melakukan aksi nekat tersebut memanjat gedung ikonik di New York dan membentangkan spanduk bertuliskan pesan cinta sebelum sang pria melamar kekasihnya. Aksi ini langsung menyita perhatian dunia, bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena visualnya yang sangat sinematik dan mudah dikenali.

Namun yang menarik untuk dicermati bukan hanya soal viralnya momen tersebut, melainkan bagaimana banyak brand global dengan sigap mengambil kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam percakapan yang sedang ramai dibicarakan. Dalam hitungan hari, berbagai merek dari kategori yang sama sekali berbeda, mulai dari platform desain grafis, perusahaan teknologi jaringan, aplikasi pembelajaran bahasa, hingga merek kosmetik, ramai-ramai membuat versi kreatif mereka sendiri dari momen tersebut. Fenomena ini dikenal luas di dunia marketing sebagai trendjacking, sebuah strategi yang memanfaatkan momentum sebuah tren atau peristiwa viral untuk meningkatkan visibilitas merek secara organik.

TrendJacking Bukan Sekadar Ikut-ikutan

Banyak orang awam mungkin menganggap trendjacking sebagai bentuk sederhana dari merek yang sekadar ingin terlihat relevan dengan mengikuti apa yang sedang viral. Namun jika ditelaah lebih dalam, strategi ini sebenarnya membutuhkan kecepatan eksekusi, kepekaan budaya, serta kemampuan untuk mengaitkan sebuah momen viral dengan nilai jual produk secara kreatif tanpa terkesan memaksa. Tidak semua merek yang mencoba trendjacking berhasil menciptakan dampak positif, karena eksekusi yang kurang matang justru dapat membuat sebuah merek terlihat berusaha terlalu keras atau bahkan tidak peka terhadap momen personal yang sedang dirayakan oleh orang lain.

Fenomena lamaran di Empire State Building ini menjadi contoh menarik karena hampir semua merek yang berpartisipasi berhasil menemukan sudut pandang unik yang selaras dengan identitas mereknya masing-masing, tanpa terkesan mengambil alih momen personal tersebut secara berlebihan. Sebagai contoh, Canva memperbesar tampilan spanduk dalam foto viral tersebut sembari menyisipkan pesan promosi terkait fitur pengeditan ukuran gambar yang menjadi salah satu keunggulan produknya. Ada pula perusahaan teknologi jaringan yang mengganti isi spanduk dengan lelucon klasik seputar dunia dukungan teknis, sebuah pendekatan yang berhasil menghubungkan momen romantis tersebut dengan pengalaman sehari-hari banyak pekerja kantoran.

Sementara itu, aplikasi pembelajaran bahasa, Duolingo, yang dikenal dengan maskot burung hantunya turut memanfaatkan momen tersebut dengan caranya yang khas, mengganti visual pasangan tersebut dengan karakter maskotnya sendiri sembari menyisipkan elemen pembelajaran bahasa ke dalam narasi konten. Bahkan pengelola gedung Empire State Building sendiri turut memanfaatkan momen viral ini untuk mempromosikan dek observasinya sebagai destinasi romantis alternatif, tanpa perlu melakukan aksi berbahaya seperti yang dilakukan pasangan tersebut.

Mengapa Strategi Trendjacking Efektif Secara Bisnis?

Di balik kesan jenaka dan ringan dari setiap konten trendjacking tersebut, terdapat sejumlah insight marketing yang sangat relevan untuk dipahami oleh siapa pun yang bergerak di bidang pemasaran, baik untuk skala bisnis besar maupun usaha kecil menengah.

  1. Kecepatan menjadi Elemen Kunci

Sebuah tren viral biasanya hanya memiliki masa hidup yang sangat singkat, sering kali hanya bertahan beberapa hari sebelum perhatian publik beralih ke topik lain. Merek yang mampu merespons dengan cepat memiliki peluang jauh lebih besar untuk menangkap gelombang perhatian tersebut dibandingkan merek yang baru merespons setelah momentumnya mulai meredup. Hal ini menuntut tim marketing memiliki proses kreatif dan approval yang gesit, bukan birokrasi panjang yang biasa ditemukan pada kampanye pemasaran konvensional.

  1. Relevansi Kontekstual

Merek-merek yang berhasil dalam momen viral ini bukan sekadar menempelkan logo mereka ke dalam gambar yang sedang viral, melainkan menciptakan narasi baru yang tetap terasa relevan dengan identitas dan nilai jual produk mereka sendiri. Pendekatan semacam ini membuat audiens tidak merasa sedang menonton iklan, melainkan menikmati sebuah lelucon kreatif yang kebetulan datang dari sebuah merek.

  1. Trendjacking menghasilkan Asosiasi Emosional

Lamaran di Empire State Building menyimpan emosi kuat seperti keberanian, cinta, dan kejutan. Merek-merek yang berhasil memanfaatkan momen ini adalah mereka yang mampu meminjam emosi tersebut, lalu mengarahkannya kembali ke pengalaman produk mereka dengan cara yang tetap terasa menghibur, bukan eksploitatif.

Secara keseluruhan, strategi ini terbukti sangat efisien untuk mendapatkan eksposur besar tanpa harus mengeluarkan biaya produksi maupun media placement yang mahal. Sebagian besar konten trendjacking hanya membutuhkan proses desain sederhana dan waktu produksi singkat, namun berpotensi menjangkau audiens yang jauh lebih luas dibandingkan kampanye iklan berbayar konvensional, karena konten semacam ini cenderung dibagikan secara organik oleh pengguna media sosial yang menemukan pendekatannya lucu atau kreatif.

Risiko yang Perlu Diperhatikan Merek

Meski terlihat menggiurkan, strategi trendjacking bukan tanpa risiko. Merek perlu berhati-hati dalam memilih momen viral mana yang layak untuk dimanfaatkan, terutama jika momen tersebut menyangkut isu sensitif, tragedi, atau privasi individu yang terlibat. Dalam kasus lamaran di Empire State Building, momen tersebut cenderung aman untuk dimanfaatkan karena sifatnya yang positif dan menghibur, sehingga risiko munculnya reaksi negatif dari publik menjadi jauh lebih kecil dibandingkan jika merek mencoba memanfaatkan momen yang berkaitan dengan duka, kontroversi, atau isu sosial yang sensitif.

Selain itu, konsistensi antara konten trendjacking dengan identitas merek juga menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan strategi ini. Audiens media sosial cenderung lebih mudah mengapresiasi trendjacking yang terasa autentik dengan kepribadian merek yang sudah mereka kenal sebelumnya, dibandingkan konten yang terkesan dipaksakan hanya demi mengejar tren semata.

Pelajaran bagi Dunia Social Media Marketing

Fenomena ini pada akhirnya memberikan pelajaran yang jauh lebih luas bagi siapa pun yang bergerak di dunia pemasaran, tidak terbatas pada industri tertentu saja. Di tengah lanskap media sosial yang bergerak sangat cepat, kemampuan untuk membaca momentum budaya dan meresponsnya dengan cepat menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh strategi pemasaran tradisional yang cenderung membutuhkan waktu perencanaan lebih panjang.

Namun kecepatan saja tidak cukup tanpa kreativitas yang matang. Merek yang berhasil memanfaatkan momen viral adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara kecepatan eksekusi, relevansi terhadap identitas merek, serta kepekaan terhadap konteks sosial dari momen yang sedang mereka manfaatkan. Kombinasi ketiga elemen ini yang pada akhirnya menentukan apakah sebuah trendjacking akan dikenang sebagai langkah pemasaran yang cerdas, atau justru menjadi bumerang yang merugikan reputasi merek itu sendiri.

Di masa mendatang, seiring semakin cepatnya siklus tren di media sosial, kemampuan merek untuk beradaptasi dengan gesit terhadap momen-momen viral kemungkinan besar akan terus menjadi salah satu strategi andalan dalam dunia pemasaran digital, selama dilakukan dengan kepekaan dan kreativitas yang tepat.

Advertisement
Slot Banner / Sponsor
Advertisement
Slot Banner / Sponsor
Scroll to Top