Sumber Foto: BCA Pressroom
Salim Group pernah berada di titik nadir saat krisis moneter 1998 menghantam Indonesia. Grup yang dulu identik dengan kedekatan politik era Orde Baru lewat sang pendiri Sudono Salim ini kehilangan sebagian besar asetnya, termasuk Bank Central Asia yang harus diserahkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Namun di bawah kepemimpinan Anthoni Salim, putra bungsu Sudono, grup ini berhasil bangkit lewat serangkaian keputusan strategis yang mengubah arah bisnisnya secara fundamental hingga kini kembali menjadi salah satu konglomerat paling berpengaruh di Indonesia.
Kondisi Sebelum Krisis
Sebelum 1998, Salim Group adalah salah satu konglomerat terbesar di Asia Tenggara dengan portofolio luas mulai dari perbankan lewat BCA, semen lewat Indocement, hingga consumer goods lewat Indofood. Kedekatan Sudono Salim dengan Presiden Soeharto selama puluhan tahun membuat grup ini tumbuh sangat cepat, namun juga sangat rentan saat terjadi pergantian rezim dan gejolak politik.
Trigger Perubahan: Kerusuhan dan Kehilangan BCA
Saat kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada lengsernya Soeharto, rumah Sudono Salim dibakar massa dan ia terpaksa mengungsi ke Singapura. Di masa krisis itu, kepemimpinan grup diserahkan kepada Anthoni Salim di tengah kondisi utang yang sangat besar. Sebagai bagian dari penyelesaian kewajiban ke negara, Salim Group harus menyerahkan sejumlah aset strategis kepada BPPN, termasuk BCA dan Indocement. Ini adalah titik balik yang memaksa manajemen merombak total strategi bisnis mereka.
Keputusan Strategis: Konsolidasi ke Indofood
Alih-alih mempertahankan model konglomerasi lintas sektor yang rapuh, Anthoni Salim memilih memperkuat fondasi di sektor yang punya permintaan inelastis: makanan dan minuman lewat Indofood. Keputusan ini terbukti tepat karena kebutuhan pangan relatif tidak terpengaruh gejolak ekonomi makro. Indomie sebagai produk andalan bahkan tumbuh menjadi salah satu merek mi instan terbesar di dunia, memberi grup fondasi arus kas yang jauh lebih stabil dibanding era sebelum krisis.
Ekspansi Selektif ke Pertambangan Strategis
Setelah fondasi consumer goods kembali kuat, grup ini mulai melebarkan sayap secara lebih hati-hati ke sektor lain. Salah satu langkah paling signifikan terjadi pada 2022 saat Anthoni Salim, lewat kendaraan investasi Mach Energy Hongkong Limited, masuk ke PT Bumi Resources Tbk milik Grup Bakrie melalui skema private placement senilai sekitar 1,6 miliar dolar AS. Hingga akhir Agustus 2025, kepemilikan Mach Energy di Bumi Resources tercatat mencapai 45,78 persen, menjadikan Salim sebagai pemegang saham utama di perusahaan tambang batu bara terbesar milik konglomerat lain, sebuah bentuk sinergi antar-konglomerat yang jarang terjadi di Indonesia. Grup ini juga masuk ke sektor tambang tembaga dan emas lewat kepemilikan di PT Amman Mineral Internasional, salah satu tambang terbesar kedua di Indonesia setelah Freeport.
Diversifikasi ke Perbankan, Media, dan Digital
Lewat PT Indolife Pensiontama, Salim Group juga menjadi pemegang saham pengendali di Bank Ina Perdana dengan kepemilikan sekitar 22,83 persen, langkah untuk kembali membangun eksposur ke sektor perbankan setelah kehilangan BCA. Di sektor media dan teknologi, Anthoni Salim tercatat memiliki sekitar 8,98 persen kepemilikan di PT Elang Mahkota Teknologi, induk dari SCTV, Vidio, dan berbagai layanan digital. Sementara di ritel, grup ini memiliki saham signifikan di Indomaret lewat PT Indoritel Makmur Internasional.
Kekuatan Struktur Holding
Salah satu ciri khas strategi Anthoni Salim adalah penggunaan struktur holding untuk mengendalikan banyak perusahaan tanpa harus memiliki mayoritas saham secara langsung. Kepemilikan pribadinya di Indofood misalnya hanya sekitar 0,02 persen, namun kendali penuh tetap berada di tangannya lewat lapisan holding seperti First Pacific Investment Management. Pendekatan ini memungkinkan grup mengendalikan aset dalam skala sangat besar dengan modal yang jauh lebih efisien.
Kondisi Terkini
Per data Forbes yang dirilis Desember 2024, Anthoni Salim menempati posisi kelima dalam daftar orang terkaya Indonesia dengan kekayaan sekitar 12 miliar dolar AS. Emiten-emiten utama grup seperti Indofood, ICBP, Salim Ivomas Pratama, dan Indomobil Sukses Internasional tetap konsisten membagikan dividen setiap tahun sejak 2021, menunjukkan stabilitas finansial yang jauh berbeda dibanding kondisi krisis 1998.
Ekspansi ke Sektor Energi dan Perkebunan
Selain pertambangan mineral, Salim Group juga memperluas eksposur ke sektor energi lewat kepemilikan di PT Medco Energi Internasional, salah satu perusahaan eksplorasi dan produksi minyak serta gas terbesar di Indonesia. Di sektor perkebunan, lewat PT Salim Ivomas Pratama dan PT PP London Sumatra Indonesia, grup mengelola perkebunan kelapa sawit, karet, teh, dan kakao dalam skala besar, melengkapi rantai pasok bahan baku untuk bisnis consumer goods Indofood. Pendekatan integrasi vertikal ini memberi grup kendali lebih besar atas biaya bahan baku sekaligus membuka peluang ekspor komoditas perkebunan secara terpisah dari bisnis makanan olahan.
Warisan Sudono Salim dan Regenerasi Kepemimpinan
Sudono Salim, yang lahir dengan nama Liem Sioe Liong, wafat pada 2012 di Singapura setelah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di pengasingan pasca krisis 1998. Meski demikian, fondasi bisnis yang ia bangun sejak mendirikan grup pada Oktober 1972 bersama Sutanto Djuhar tetap menjadi landasan bagi Anthoni Salim untuk membangun kembali kerajaan bisnisnya. Proses regenerasi kepemimpinan yang relatif mulus dari ayah ke anak ini menjadi salah satu faktor kunci yang memungkinkan grup bertransisi dari krisis eksistensial pada 1998 menjadi konglomerat yang kembali solid dua dekade kemudian.
Otomotif sebagai Pilar Tambahan
Di sektor otomotif, Salim Group menguasai PT Indomobil Sukses Internasional lewat Gallant Venture Ltd dengan kepemilikan sekitar 49,49 persen. Indomobil menaungi distribusi berbagai merek kendaraan global seperti Mercedes-Benz, Suzuki, Volvo, dan Audi di Indonesia, lengkap dengan layanan purna jual, pembiayaan, dan suku cadang. Kehadiran di sektor otomotif ini menunjukkan pola ekspansi grup yang konsisten: masuk ke sektor yang punya basis konsumen massal dan potensi pertumbuhan jangka panjang seiring naiknya daya beli kelas menengah Indonesia.
Pelajaran buat Pebisnis
Kasus Salim Group mengajarkan pentingnya diversifikasi yang bijak, bukan sekadar memperluas portofolio, tapi memastikan ada bisnis inti yang tahan krisis sebagai jangkar. Ketergantungan pada faktor eksternal seperti relasi politik tanpa fondasi bisnis yang solid adalah risiko struktural yang bisa runtuh sewaktu-waktu. Setelah fondasi itu kembali kuat, ekspansi bisa dilakukan secara bertahap dan selektif, bahkan lewat kolaborasi strategis dengan konglomerat lain seperti yang ditunjukkan lewat investasi Salim di Bumi Resources milik Grup Bakrie. Prinsip integrasi vertikal dari perkebunan hingga produk jadi juga menjadi pelajaran penting bagi pebisnis di sektor consumer goods yang ingin mengendalikan biaya bahan baku secara lebih stabil.
Insight Kunci
- Salim Group kehilangan BCA pasca krisis 1998 dan membangun kembali fondasi bisnis lewat Indofood sebagai jangkar utama.
- Pada 2022, Anthoni Salim masuk ke Bumi Resources milik Grup Bakrie senilai sekitar 1,6 miliar dolar AS, kini menguasai 45,78 persen saham.
- Struktur holding berlapis memungkinkan Salim mengendalikan aset dalam skala besar dengan kepemilikan langsung yang relatif kecil.



